Rabu, 21 Maret 2012

Tulisan Kesehatan Mental

Definisi Kesehatan Jiwa
Definisi kesehatan jiwa sulit untuk di rumuskan secara tajam dan obyektif. Ini dikarenakan banyak ahli yang membuat definisi tentang kesehatan jiwa namun perumusan itu berlainan satu sama lain. Mengapa? Hal ini di sebabkan kesehatan jiwa mengandung unsur pendapat tentang nilai-nilai (value – judgement).
Undang-Undang Kesehatan No. 23 tahun 1992 menyatakan bahwa sehat adalah keadaan sejahtera dari fisik, mental dan social serta produktif secara ekonomis. Jadi dengan demikian kesehatan jiwa (mental) merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kesehatan secara keseluruhan. Hal ini sesuai dengan definisi dari World Health Organization menyatakan kesehatan jiwa sebagai salah satu aspek dari kesehatan umum. WHO menyatakan “Health is a state of physical, mental, and social wellbeing and not merely the absence of disease or infirmity”.
Namun ditinjau dari segi istilahnya, kesehatan mental diartikan dalam beberapa macam yaitu:
A.    Kesehatan jiwa sebagai suatu kondisi
Pada tahun 1948 di kota London, Federasi Kesehatan jiwa Sedunia (WFMH) merumuskan paham jiwa sebagai berikut :
1.      Kesehatan jiwa adalah kondisi yang memungkinkan perkembangan optimal bagi individu secara fisik, intelektual, dan emosional sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan orang lain.
2.      Suatu masyarakat yang baik adalah suatu masyarakat yang menjamin perkembangan optimal tadi, sambil menanggung pula perkembangannya sendiri dan yang ada toleransi terhadap masyarakat lain.
Dua pengertian diatas berkaitan satu sama lain yaitu individu hidup dan berkembang dalam masyarakat ialah tidak mungkin tercapainya kesehatan jiwa bila masyarakatnya tidak baik, demikian pula tidak mungkin masyarakat berkembang baik bila individunya tidak sehat jiwanya.

B.     Kesehatan jiwa sebagai suatu ilmu
Pengetahuan dan perilaku yang bertujuan untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi, bakat dan pembawaan yang ada semaksimal mungkin, sehingga membawa kebahagiaan diri sendiri dan orang lain, serta agar terhindar dari gangguan-gangguan dan penyakit jiwa (Zakiah Drajat)
Berikut kriteria kesehatan jiwa menurut :

1.      Karl Meninger
“sehat mental adalah penyesuaian manusia terhadap dunianya dan terhadap sesame manusia lainnya dengan efektifitas dan kebahagian yang maksimum. Bukan ssekedar efisiensi atau kesenangan atau dengan baik mengikuti aturan permainan.”

2.      Boehm
“Sehat mental adalah suatu kondisi dan taraf fungsi yang di terima lingkungan sosialnya dan dapat memuaskan diri sendiri.

3.      Erich Fromm
“Derajat kesehatan mental tergantung dari cara pemenuhan kebutuhan psikis. Bila tidak terpenuhi sama sekali orang akan sakit, bila terpenuhi tetapi dengan cara yang kurang menyenangkan dapat menyebabkan neurotik.”

Dimensi Kesehatan
Pada tahun 1984 WHO telah menambahkan dimensi agama sebagai salah satu aspek kesehatan sehingga kesehatan manusia seutuhnya, meliputi:
1.      Sehat secara jasmani (organobiologis);
2.      Sehat secara kejiwaan (psikiatrik/psikologis);
3.      Sehat secara sosial (sosial-budaya) dan
4.      Sehat secara spiritual (kerohanian/agama).

Perkembangan kepribadian
Nah, selanjutnya saya akan membahas tentang perkembangan kepribadian menurut Sigmund Freud dan Erik Erikson. Banyak teori yang berkaitan tentang perkembangan kepribadian, namun saat ini saya hanya akan membahas teori Freud dan Erikson saja.
A.    Teori Perkembangan Freud
Menurut Freud kepribadian tersusun dari 3 sistem pokok, yaitu : Id, Ego, dan Superego.
Id adalah dorongan-dorongan yang bersifat jasmaniah, naluriah, atau intelektual yang telah ada sejak lahi
Ego adalah kemampuan individu untuk berusaha mencari pemenuhan kebutuhannya dari id dengan menyesuaikan diri pada realitas.
Superego adalah standar-standar moral yang umumnya mula-mula didapat dari orang tuanya.

Adapun teori perkembangan psikoseksual Freud yaitu:

1.      Tahap Oral (0-1 tahun)
Tahapan dimana anak memperoleh kenikmatan dan kepuasan yang bersumber pada mulut. Contohnya mengempeng, mengemut jari.
2.      Tahap Anal (1-3 tahun)
Pada tahapan ini kenikmatan dan kepuasan anak terletak pada daerah anus. Anak mendapatkan kepuasan tersendiri dari menahan dan mengeluarkan kotoran, nah pada tahap inilah saat yang tepat untuk mengajari anak toilet training.
3.      Tahap Phallic (3-5 tahun)
Daerah kepuasan anak berpindah ke daerah alat kelamin. Anak mulai tertarik pada perbedaan-perbedaan anatomis laki-laki dan perempuan.
4.      Tahap Laten (5-12 tahun)
Pada tahap ini bias dibilang adalah masa yang relative tenang,  anak mengembangkan kemampuan motorik dan kognitifnya dengan pesat.
5.      Tahap Genital ( >12 tahun)
Pada tahap ini alat-alat reproduksi mulai berfungsi, dimana kepuasan berasa di daerah kelamin. Libido lebih diarahkan untuk hubungan heteroseksual.

B.     Teori Perkembangan Erikson
Teori perkembangan psikososial dari Erikson mencakup delapan tahapan sepanjang rentan kehidupan, yaitu:

1.      Basic Trust vs Mistrust ( 0 – 1 tahun)
Bayi mengembangkan kesadaran apakah dunia merupakan tempat yang baik dan aman atau tidak. Situasi-situasi yang menyenangkan dan orang-orang yang bertanggung jawab membuat bayi merasa aman dan nyaman.
2.      Authonomy vs Shame and Doubt ( 2-3 tahun )
Anak mulai dapat melakukan aktivitas secara lebih luas dan mulai menemukan konflik yang beragam pada saat ini anak akan merasa mandiri, ragu-ragu, ataupun malu.
3.      Initiative vs guilt (3-6 tahun)
Jika anak memiliki rasa percaya diri, maka ia akan berani mengambil inisiatif, yaitu perasaan bebas untuk melakukan segala sesuatu atas kehendak sendiri.

4.      Industry vs Inferiority ( 6 – 11 tahun )
Anak akan merasa mampu melakukan segala sesuatu pada tahapan ini atau anak akan merasa “kecil” atau rendah diri dilingkungannya.
5.      Identity vs Identity Confusion ( 12 tahun )
Pada masa ini anak dihadapkan pada kebingungan akan jati dirinya, siapakah dirinya, ingin menjadi apakah kelak.
6.      Intimacy vs Isolation
Berusaha membuat komitmen dengan orang lain. Jika tidak berhasil dalam komitmennya yaitu kecenderungan untuk menghindar dan mengasingkan diru dari orang lain dan dunia luar.
7.      Generativity vs Self-absorbtion
Individu akan memperhatikan apa yang dihasilkannya serta mulai merencanakan untuk memiliki keturunan atau malah individu akan mengalami stagnasi.
8.      Integrity vs Despair
Individu akan mengakumulasikan dan mengingat masa lalunya. Rasa puas akan prestasi dan tindakan-tindakan dimasa lalu akan menimbulkan kepuasan atau kekecewaan akan tidak mampunya dalam menghidupkan kembali kehidupannya.

Daftar Pustaka
Semiun, Yustinus. 2006. Kesehatan Mental 1. Yogyakarta: Kanisius.
Schultz, D. Psikologi Pertumbuhan Model-Model Kepribadian Sehat. Penerbit Kanisius, 1991.
Siswanto. (2007). Kesehatan Mental. Yogyakarta: Andi


Konsep Mental dan Sejarah Kesehatan Mental


Sejarah Kesehatan Mental
Kesehatan mental atau mental hygiene itu bermula dari kata Mental dan Hygiene. Kata  Mental sendiri berasal dari bahasa latin yaitu Mensa tau Mentis yang artinya jiwa, sukma, roh dan semangat. Adapun Hygiene diambil dari nama dewi kesehatan Yunani yaitu Hygeia.
Sejarah ilmu kesehatan mental bermula saat Clifford Beers, seorang mantan pasien mental di Amerika  menulis buku yang berjudul “A Mind That Found It Self”.  Di dalam buku ini ia menceritakan bagaimana pengalaman pahitnya dalam menjalani hari-harinya sebagai pasien yang pernah di rawat di beberapa rumah sakit jiwa. Adolf Meyer yang saat itu sebagai Bapak Psikiater Amerika, tergerak hatinya setelah membaca buku ini dan mengajak Beers bersama-sama mendirikan perhimpunan kesehatan mental yang bernama Mental Hygiene Society di kota kelahirannya Beers yaitu Connecticut.
Adapun salah satu usaha yang dilakukan oleh perhimpunan ini adalah memperjuangkan perbaikan perlakuan terhadap pasien-pasien mental di rumah sakit jiwa yang memang pada saat itu di perlakukan secara buruk dan sangat tidak manusiawi. Alhasil gerakan ini pun mendapat simpati dari masyarakat sehingga mulai bermunculan perhimpunan-perhimpunan di kota-kota lain.
Kemudian perhimpunan-perhimpunan ini bersama-sama membentuk The National Association for Mental Health. Kemudian muncul perhimpunan-perhimpunan kesehatan mental di Finlandia (1917), Canada (1918) dan Perancis (1920).
Kongres kesehatan jiwa internasional yang pertama kali dilaksanakan di Wahington DC pada tahun 1930 dan yang kedua di laksanakan di Paris pada tahun 1937. Pada kongres ketiga tahun 1948, di bentuk The World Federation for Mental Health. Pada kongres ini, istilah  mental hygiene di ubah menjadi Mental Health.

Dimensi Kesehatan
Pada tahun 1984 WHO telah menambahkan dimensi agama sebagai salah satu aspek kesehatan sehingga kesehatan manusia seutuhnya, meliputi:
1.      Sehat secara jasmani (organobiologis);
2.      Sehat secara kejiwaan (psikiatrik/psikologis);
3.      Sehat secara sosial (sosial-budaya) dan
4.      Sehat secara spiritual (kerohanian/agama).

 Definisi Kesehatan Jiwa
Definisi kesehatan jiwa sulit untuk di rumuskan secara tajam dan obyektif. Ini dikarenakan banyak ahli yang membuat definisi tentang kesehatan jiwa namun perumusan itu berlainan satu sama lain. Mengapa? Hal ini di sebabkan kesehatan jiwa mengandung unsur pendapat tentang nilai-nilai (value – judgement). Selain pandangan tentang kesehatan jiwa juga dipengaruhi oleh pandangan hidup seseorang dan nilai-nilai dari lingkungan social budaya, paradigm inilah yang dipakai. Selain itu sebagai ilmu baru kesehatan mental banyak di pengaruhi oleh ilmu-ilmu yang mendahuluinya, antara lain : ilmu kedokteran jiwa, psikologi klinis, sosiologi, antropologi, dan agama. Maka dari itu sulit mengemukakan definisi yang dapat di terima secara umum di seluruh dunia.
Undang-Undang Kesehatan No. 23 tahun 1992 menyatakan bahwa sehat adalah keadaan sejahtera dari fisik, mental dan social serta produktif secara ekonomis. Jadi dengan demikian kesehatan jiwa (mental) merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kesehatan secara keseluruhan. Hal ini sesuai dengan definisi dari World Health Organization menyatakan kesehatan jiwa sebagai salah satu aspek dari kesehatan umum. WHO menyatakan “Health is a state of physical, mental, and social wellbeing and not merely the absence of disease or infirmity”.
Namun ditinjau dari segi istilahnya, kesehatan mental diartikan dalam beberapa macam yaitu:
A.    Kesehatan jiwa sebagai suatu kondisi
Pada tahun 1948 di kota London, Federasi Kesehatan jiwa Sedunia (WFMH) merumuskan paham jiwa sebagai berikut :
1.      Kesehatan jiwa adalah kondisi yang memungkinkan perkembangan optimal bagi individu secara fisik, intelektual, dan emosional sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan orang lain.
2.      Suatu masyarakat yang baik adalah suatu masyarakat yang menjamin perkembangan optimal tadi, sambil menanggung pula perkembangannya sendiri dan yang ada toleransi terhadap masyarakat lain.
Dua pengertian diatas berkaitan satu sama lain yaitu individu hidup dan berkembang dalam masyarakat ialah tidak mungkin tercapainya kesehatan jiwa bila masyarakatnya tidak baik, demikian pula tidak mungkin masyarakat berkembang baik bila individunya tidak sehat jiwanya.
B.     Kesehatan jiwa sebagai suatu ilmu
Pengetahuan dan perilaku yang bertujuan untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi, bakat dan pembawaan yang ada semaksimal mungkin, sehingga membawa kebahagiaan diri sendiri dan orang lain, serta agar terhindar dari gangguan-gangguan dan penyakit jiwa (Zakiah Drajat) 

Berikut kriteria kesehatan jiwa menurut :

1.      Karl Meninger
“sehat mental adalah penyesuaian manusia terhadap dunianya dan terhadap sesame manusia lainnya dengan efektifitas dan kebahagian yang maksimum. Bukan ssekedar efisiensi atau kesenangan atau dengan baik mengikuti aturan permainan.”

2.      Boehm
“Sehat mental adalah suatu kondisi dan taraf fungsi yang di terima lingkungan sosialnya dan dapat memuaskan diri sendiri.

3.      Erich Fromm
“Derajat kesehatan mental tergantung dari cara pemenuhan kebutuhan psikis. Bila tidak terpenuhi sama sekali orang akan sakit, bila terpenuhi tetapi dengan cara yang kurang menyenangkan dapat menyebabkan neurotik.”

Daftar Pustaka
Semiun, Yustinus. 2006. Kesehatan Mental 1. Yogyakarta: Kanisius.
Schultz, D. Psikologi Pertumbuhan Model-Model Kepribadian Sehat. Penerbit Kanisius, 1991.