Sabtu, 16 Maret 2013

Psikoterapi


Pengertian Psikoterapi

Secara etimologis mempunyai arti sederhana, yakni psyche: mind / jiwa dan therapy : merawat, mengobati, menyembuhkan, sedangkan menurut Wohlberg (dalam Phares dan Trull, 2001) psikoterapi adalah pengobatan dengan cara psikologis dari masalah yang bersifat emosional. Dimana seseorang terlatih sengaja membangun hubungan professional dengan pasien, dengan tujuan menghapus, mengubah atau menghambat gejala yang terganggu pola mediasi perilaku, meningkatkan pertumbuhan kepribadian yang positif dan pengembangan.

Tujuan Psikoterapi

Tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikoanalisis menurut Corey (dalam Gunarsa, 2004) yaitu membantu klien menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat melalui pemahaman intelektual.
Sedangkan tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikodinamik menurut Ivey (dalam Gunarsa, 2004) adalah : membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadiannya dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama.
Selain itu terdapat tujuan psikoterapi dengan pendekatan terpusat yang dikemukakan oleh Corey (dalam Gunarsa, 2004) antara lain : untuk memberikan suasana aman, bebas, agar klien mengeksplorasi diri dengan baik, sehingga ia bisa mengenali hal-hal yang bisa mencegah pertumbuhannya.
Ada pula tujuan psikoterapi dengan pendekatan behavioristik yang dikemukakan oleh Ivey (dalam Gunarsa, 2004) yakni untuk menghilangkan kesalahan dalam belajar dan berperilaku untuk mengganti pola-pola perilaku yang lebih bisa menyesuaikan.

Unsur Psikoterapi

Masserman (dalam Mujib, 2002) melaporkan delapan ‘parameter pengaruh’ dasar yang mencakup unsur-unsur lazim pada semua jenis psikoterapi, yaitu :
1.         Peran sosial (martabat)
2.         Hubungan psikoterapeutik
Seorang terapis mendengarkan dengan penuh perhatian. Kemudian terapis menyampaikan pemahamannya terhadap klien atau bertindak untuk menghilangkan penderitaan klien pada saat yang tepat.
3.         Psikoterapi sebagai kesempatan untuk belajar kembali
Menurut Korchin kepercayaan terhadap tindakan terapis sangat dibutuhkan agar menghasilkan kondisi-kondisi untuk belajar kembali. Seorang klien member kepercayaan bersama dengan ketidakpuasan dan keinginan untuk berubah.
4.      Motivasi, kepercayaan dan harapan
Kepercayaan merupakan hal yang penting dalam psikoterapi. Klien mengetahui bahwa dirinya dapat mepercayai otoritas terapis. Dan dirinya akan diperlakukan dengan penuh hormat, oleh karena itu klien dapat mengungkapkan pikirannya secara terbuka tanpa adanya penolakan. Sedangkan harapan dan ketakutan dapat sesekali menyelimuti klien ketika hendak melakukan psikoterapi.
5.      Hak
6.      Retrospeksi
7.      Reduksi
8.   Rehabilitasi

Perbedaan Antara Psikoterapi dengan konseling
Konseling
Psikoterapi
Kurang  intensif
Lebih intensif
Preventif
Kuratif / reapartif
Fokus : edukasi, vocational, perkembangan
Fokus : remedial
Setting : sekolah, industri, social work,
Setting : rumah sakit, klinik, praktek pribadi,
Jumlah intervensi kurang
Jumlah intervensi banyak
Supportive
Reconstructive
Penekanan “normal”
/ masalah ringan
Penekanan “disfungsi” / masalah berat
Short term
Long term

Pendekatan Psikoterapi Terhadap Mental Illnes
1.    Pendekatan Psikoanalisa  
Banyak menekankan faktor ketidaksadaran dan berlandaskan pada pengaruh aspek biologis manusia
2.      Pendekatan Behavioristik
Menekankan proses berpikir rasional dalam terapi. pendekatan ini memandang manusia dari sudut perilaku yang tampak yang bisa diobservasi dan dikuantifikasi
3.      Pendekatan Humanistik
Sangat mementingkan nilai-nilai kemanusiaan pada diri seseorang.
4.      Gestalt
Sebagian besar merupakan terapi eksperimental yang menekankan kesadaran dan integrasi, yang muncul sebagai reaksi melawan terapi analitik, serta mengintegrasikan fungsi jiwa dan badan.

Bentuk utama psikoterapi

Bentuk utama yang dikemukakan oleh Atkinson (dalam Maulany, 1994) terdapat enam teknik atau bentuk utama psikoterapi yang digunakan oleh para psikiater atau psikolog, antara lain:
1.       Teknik Terapi Psikoanalisa
Teknik ini menekankan fungsi pemecahan masalah dari ego yang berlawanan dengan impuls seksual dan agresif dari id. Model ini banyak dikembangkan dalam Psiko-analisis Freud. Menurutnya, paling tidak terdapat lima macam teknik penyembuhan penyakit mental, yaitu dengan mempelajari otobiografi, hipnotis, chatarsis, asosiasi bebas, dan analisa mimpi. Teknik freud ini selanjutnya disempurnakan oleh Jung dengan teknik terapi Psikodinamik.
2.      Teknik Terapi Perilaku
Teknik ini menggunakan prinsip belajar untuk memodifikasi perilaku individu, antara lain desensitisasi, sistematik, flooding, penguatan sistematis, pemodelan, pengulangan perilaku yang pantas dan regulasi diri perilaku.
3.      Teknik Terapi Kognitif Perilaku
Terapis membantu individu mengganti interpretasi yang irasional terhadap suatu peristiwa dengan interpretasi yang lebih realistik.
4.      Teknik Terapi Humanistik
Teknik dengan pendekatan fenomenologi kepribadian yang membantu individu menyadari diri sesunguhnya dan memecahkan masalah mereka dengan intervensi terapis yang minimal (client-centered-therapy). Gangguan psikologis diduga timbul jika proses pertumbuhan potensi dan aktualisasi diri terhalang oleh situasi atau orang lain.
5.      Teknik Terapi Eklektik atau Integratif
Yaitu memilih teknik terapi yang paling tepat untuk klien tertentu. Terapis mengkhususkan diri dalam masalah spesifik, seperti alkoholisme, disfungsi seksual, dan depresi.
6.      Teknik Terapi Kelompok dan Keluarga
Terapi kelompok adalah teknik yang memberikan kesempatan bagi individu untuk menggali sikap dan perilakunya dalam interaksi dengan orang lain yang memiliki masalah serupa. Sedang terapi keluarga adalah bentuk terapi khusus yang membantu pasangan suami-istri, atau hubungan arang tua-anak, untuk mempelajari cara yang lebih efektif, untuk berhubungan satu sama lain dan untuk menangani berbagai masalahnya.

Daftar Pustaka:

Maulany, dr.R F;. (1997). BUKU SAKU PSIKIATRI. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Mujib, A. (2002). Nuansa-nuansa Psikologi Islam. Jakarta: Grafindo Persada
Gunarsa, Singgih D (2007). Konseling dan psikoterapi. In http://books.google.co.id/books?id=vjvjGDxJi4C&pg=PA85&lpg=PA85&dq=perbedaan+psikoterapi+dengan+konseling&source=bl&ots=nxgmJh_-n&sig=QALpK3MKUqTTVXsBjd_mAmaEnY&hl=en&sa=X&ei=3wZDUbjzH9HHrQe78IHQDA&redir_esc=y#v=onepage&q=perbedaan%20psikoterapi%20deng (p. 85). Jakarta: BPK Gunung Mulia. Di akses pada : 15 Maret 2013 pukul : 21.07 WIB



Kamis, 14 Juni 2012

Kesan dan Hikmah


Selamat malam semua.. Saya ingin menceritakan apa yang saya dapatkan dari menonton video sepucuk surat dari ayah dan ibu. Walaupun tadi siang saya tidak masuk mata kuliah Kesehatan Mental, namun saya tetap mengerjakan tugas ini karna tugas ini merupakan tugas terakhir dari mata kuliah ini. Lucky me, karna saya pernah menonton salah satu video yang diputarkan dikelas sehingga saya bisa mengerjakan tugas ini. Awalnya saya nonton video ini karna penasaran melihat teman saya yang menangis saat melihat video di handphone, sampai saya berkata dalam hati “dih, kenapa tuh si nunung nonton video aja sampe nangis gitu yaa?” lalu saya mendekati teman saya dan minta diputar ulang agar saya bisa ikutan menonton. Dan benar saja, gak pake lama saya pun ikutan menangis..
Di video itu berisikan surat dari ayah dan ibu yang berpesan kepada anaknya untuk slalu memahaminya, menemaninya, dan slalu mendampingi mereka. Saya sungguh sangat tersentuh, dan saya bercermin dari kata-kata yang ada di video itu. Saya malu pada diri saya sendiri, saya sangat merasa berdosa karna pernah mengeluarkan nada yang lebih tinggi dari suara ibu saya. Sedangkan di dalam surat itu mereka meminta maaf karena tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang kita ucapkan dan mereka berharap pada anaknya untuk tidak memanggilnya “ tuli”.
Video itu mengajarkan dan menyadarkan saya untuk lebih menghormati kedua orang tua saya, tanpa mereka saya tidak akan mungkin di dunia ini. Mereka yang mengajarkan saya dan menjawab pertanyaan saya yang berulang-ulang sewaktu saya masih kecil tapi tetap mereka menjawab dengan penuh kasih sayang. sedangkan saya, pasti sudah ngedumel pada ibu saya kalau sudah bertanya berulang-ulang. Maafkan anakmu ini mah, pah karna telah berbuat kurang ajar terhadapmu.

Kamis, 26 April 2012

Kepuasan Kerja dan Waktu Luang


 Kepuasan Kerja dan Waktu Luang

Howell dan Diboye memandang kepuasan kerja sebagai hasil keseluruhan dari derajat rasa suka atau tidak sukanya tenaga kerja terhadap berbagai aspek dari pekerjaannya. Dengan kata lain kepuasan kerja mencerminkan sikap tenaga kerja terhadap pekerjaannya.
Teori-teori Kepuasan Kerja
1.      Teori Pertentangan (Discrepancy Theory)
Teori pertentangan dari Locke menyatakan bahwa kepuasan atau ketidakpuasan terhadap beberapa aspek dari pekerjaan mencerminkan penimbangan dua nilai:
-          Pertentangan yang dipersepsikan antara apa yang diinginkan seseorang individu dengan apa yang ia terima.
-          Pentinya apa yang kita inginkan bagi individu.
Menurut Locke seseorang individu akan merasa puas atau tidak puas merupakan sesuatu yang pribadi, tergantung bagaimana ia mempersepsikan adanya kesesuaian atau pertentangan antara keinginan-keinginan dan hasil-keluarannya.
2.      Model dari Kepuasan Bidang
Model lawler dari kepuasan bidang berkaitan erat dengan teori keadilan Adams. Menurut Lawler orang akan merasa puas dengan bidang tertentu dari pekerjaan mereka (misalnya dekan rekan, atasan, gajian) jika jumlah dari bidang mereka persepsikan harus mereka terima untuk melaksanakan kerja mereka sama dengan jumlah yang mereka persepsikan dari yang secara actual mereka terima.

3.      Teori Proses-Bertentangan (Opponent-Process Theory)
Teori proses-bertentangan dari Landy memandang kepuasan kerja dari perspektif yang berbeda secara mendasar daripada pendekatan yang lain. Teori ini mengasumsikan bahwa kondisi emosional yang ekstrim tidak memberikan kemaslahatan. Kepuasan atau ketidakpuasan kerja (dengan emosi yang berhubungan) memacu mekanisme fisiologikal dalam sistem pusat saraf yang membuat aktif emosi yang bertentangan atau berlawanan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja
*       lima aspek yang terdapat dalam kepuasan kerja, yaitu
  1. Pekerjaan itu sendiri (Work It self),Setiap pekerjaan memerlukan suatu keterampilan tertentu sesuai dengan bidang nya masing-masing. Sukar tidaknya suatu pekerjaan serta perasaan seseorang bahwa keahliannya dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan tersebut, akan meningkatkan atau mengurangi kepuasan kerja.
  2. Atasan(Supervision), atasan yang baik berarti mau menghargai pekerjaan bawahannya. Bagi bawahan, atasan bisa dianggap sebagai figur ayah/ibu/teman dan sekaligus atasannya.
  3. Teman sekerja (Workers), Merupakan faktor yang berhubungan dengan hubungan antara pegawai dengan atasannya dan dengan pegawai lain, baik yang sama maupun yang berbeda jenis pekerjaannya.
  4. Promosi(Promotion),Merupakan faktor yang berhubungan dengan ada tidaknya kesempatan untuk memperoleh peningkatan karier selama bekerja.
  5. Gaji/Upah(Pay), Merupakan faktor pemenuhan kebutuhan hidup pegawai yang dianggap layak atau tidak.

Manfaat Mengisi Waktu Luang
Sesibuk dan sepadat apapun aktivitas kita, kita hanya diberi Tuhan 24 Jam sehari, tidak pernah lebih atau kurang. Oleh karena itu, kitalah yang harus mengelola waktu yang kita miliki. Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia, waktu senggang adalah waktu yang tidak sibuk. Waktu luang identik dengan bermalas-malasan, dan tidak melakukan apa-apa. Dari segi cara pengisian, waktu luang adalah waktu yang dapat diisi dengan kegiatan pilihan sendiri atau waktu yang digunakan dan dimanfaatkan sesuka hati. Jangan sampai kita mengisi waktu luang kita dengan hal-hal yang tidak berguna dan tidak menambah wawasan pengetahuan kita, contonya berolahraga, membersihkan meja belajar/meja kerja, membaca Koran, browsing hal-hal yang berguna, belajar bahasa asing, membersihkan halaman rumah, dsb.
Mengisi waktu luang ini tentu saja memiliki manfaat. Bagi Anda sendiri, manfaat mengisi waktu luang yaitu:
a.       Bisa meningkatkan kesejahteraan jasmani,
b.       Meningkatkan kesegaran mental dan emosional
c.        Membuat kita mengenali kemampuan diri sendiri
d.       Mendukung konsep diri serta harga diri
e.        Sarana belajar dan pengembangan kemampuan
f.        Pelampiasan ekspresi dan keseimbangan jasmani, mental, intelektual, spiritual, maupun estetika
g.        Melakukan penghayatan terhadap apa yang Anda sukai tanpa tidak mempedulikan segi materi
Selain itu pengisian waktu luang juga berfungsi sebagai pemenuh kebutuhan sosial, seperti :
a.       Meningkatkan daya kerja sehingga memacu prestasi dan produktivitas
  1. Menambah konsumsi, sehingga meningkatkan lapangan kerja
  2. Mengurangi kriminalitas dan kenakalan
  3. Meningkatkan kehidupan bermasyarakat

Sumber:
Munandar,Ashar Sunyoto. (2008). Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta : Penerbit Universitas UI


Rabu, 04 April 2012

Gangguan Skizofrenia


GANGGUAN SKIZOFRENIA

Skizofrenia adalah satu istilah untuk beberapa gangguan yang ditandai dengan kekacauan kepribadian, distrosi terhadap realitas, ketidakmampuan untuk berfungsi dalam kehidupan sehari-hari ( Atkinson dkk., 1992), perasaan dikendalikan oleh kekuatan dari luar dirinya, waham/delusi, dan gangguan persepsi (PPDGJ, 1983).

Gangguan Skizofrenia ini terdapat pada semua kebudayaan dan mengganggu di sepanjang sejarah, bahkan pada kebudayaan-kebudayaan yang jauh dari tekanan modern sekalipun. Umumnya gangguan ini muncul pada usia yang sangat muda, dan memuncak pada usia antara 25-35 tahun. Gangguan yang muncul dapat terjadi secara lambat atau dating secara tiba-tiba pada penderita yang cederung suka menyendiri yang mengalami stress ( Atkinson dkk., 1992).

Ciri-ciri Skizofrenia
Penderita skizofrenia menderita penyakitnya secara cepat atau lambat, dengan gejala-gejala yang bermacam-macam. Beberapa cirri utama penderita skizofrenia yang tidak selalu muncul pada setiap penderitaannya antara lain adalah ( Atkinson dkk., 1992):

a.      Kekacauan Pikiran dan Perhatian
      Menurut Atkinson dkk. (1992) kekacauan pikiran disini merupakan kesulitan umum untuk menyaring stimulus yang relevan. Pada kebanyakan orang normal pemusatan perhatian dapat dilakukan secara efektif. Dari beragamnya informasi yang masuk, kita dapat menyeleksi stimulus mana yang relevan. Sementara pada penderita skizofrenia kemampuan ini menghilan, karena jika ia menghadapi banyak stimulus pada waktu yang bersamaan, maka ia sulit untuk mengambil makna dan menyeleksi masukan-masukan yang beragam tersebut. Ketidakmampuan menyaring stimulus ini ditandai dengan pembicaraan yang tidak berujung pangkal.
b.      Kekacauan Persepsi
Pada penderita skizofrenia akut seringkali mengalami bahwa dunia tampak berbeda baginya. Suara terdengar lebih keras, warna terlihat lebih mencolok, dan tubuhnya terlihat tidak sama (misalnya tangan tampak lebih panjang atau lebih pendek, kaki sangat panjang, dan mata tampak keluar dari wajah). Beberapa penderita sudah tidak dapat mengenali dirinya sendiru di dalam cermin atau melihat bayangannya sendiri seperti bayangan rangkap tiga ( Atkinson dkk., 1992).
c.       Kekacauan afektif
Penderita skizofrenia uumnya tidak dapat memberikan respons emosional yang normal dan wajar. Mereka seringkali pasif dan tidak responsive terhadap situasi-situasi yang seharusnya membuat mereka sedih atau gembira. Kadang-kadang mereka mengungkapkan perasaan yang tidak sesuai dengan situasi atau pikiran yangt diungkapkan ( Atkinson dkk., 1992).
d.      Penarikan Diri dari Realita
Selama mengalami penderita skizofrenia seseorang cenderung menarik diri dari pergaulan dengan orang lain dan cenderung asik dengn dunianya sendiri (khayalan dan pikirannya sendiri). Keasikan dengan diri sendiri tersebut seringkali disebut dengan autism.  Keasikan terhadap diri sendiri dapat menjadi amat intens, sehingga penderita mengalami disorientasi waktu (tidak tahu hari, tanggal, dan bulan) dan disorientasi tempat (tidak tahu dimana dia berada). Penarikan diri dari realita ini pada penderita akut dapat bersifat sementara. Sedangkan pada penderita menjadi tidak responsive pada peristiwa-peristiwa eksternal, tetap diam dan tidak bergerak selama berhari-hari, serta harus dirawat seperti bayi ( Atkinson dkk., 1992).
e.       Delusi dan Halusinasi
Delusi adalah suatu perasaan keyakianan atau kepercayaan yang keliru, yang tidak dapat diubah lewat penalaran atau dengan disajikannya fakta-fakta. Delusi yang sifatnya menetap dan sistematis akan berakibat menjadi abnormal (Chaplin, 1995). Delusi pada penderita skizofrenia berupa keyakinan bahwa kekuatan eksternal mencoba mengendalikan pikiran dan tindakannya. Delusi tersebut juga meliputi keyakinan bahwa pikirannya dapat dipancarkan pada dunia sekelilingnya, sehingga merasa bahwa pikiran-pikirannya dapat diketahui oleh sekelilingnya ( Atkinson dkk., 1992).
Halusinasi adalah persepsi atau tanggapan yang keliru atau palsu, dimana penderita menghayati gejala-gejala yang di khayalkan sebagai hal yang nyata. Halusinasi adakalanya dialami juga oleh orang normal (Chaplin, 1995). Pada penderita skizofrenia, delusi bisa berdiri sendiri maupun berkaitan dengan halusinasi. Halusinasi pada penderita skizofrenia, delusi bisa secara auditoris, visual, maupun sensoris. Halusinasi auditoris biasanya merupakan suara-suara yang mengatakan kepada penderita tentang sesuatu yang harus dilakukannya. Halusinasi visual adalah keyakinan melihat suatu objek tertentu yang tidak biasa, misalnya melihat makhluk aneh atau malaikat. Sementara halusinasi sensoris tidak banyak terjadi, misalnya keyakinan bahwa terdapat bahwa terdapat bau busuk yang terpancar dari tubuh penderita (Atkinson dkk., 1992).

Tipologi Skizofrenia
menurut Baron (1989) skizofrenia dapat dikategorikan lagi menjadi empat yaitu: Disorganized Schizofrenia, Paranoid Schizofrenia, Catatonic Schizofrenia, & Undifferentiated Schizofrenia. Masing-masing tipe skizofrenia tersebut akan dijabarkan berikut ini:

1.      Disorganized Schizofrenia
Disorganized schizofrenia seringkali disebut dengan istilah Skizofrenia Hebefrenik (kacau), dimana cirri yang menonjol adalah ketololon dan inkoherensi. Para penderita seringkali tertawa atau menangis keras-keras untuk sebab yang tidak jelas dan berceloteh tanpa makna dalam beberapa jam. Beberapa diantaranya kadang-kadang mengalami delusi dan halusinasi, meski kabur dan tidak jelas (Baron, 1989)

2.      Paranoid Schizofrenia
Pada tipe ini, penderita mengalami delusi persekusi, yaitu adanya keyakinan melihat orang-orang berkomplotan untuk merusak atau menyerang penderita dimana saja berada. Mereka juga mengalami waham kebesaran. dari kedua delusai tersebut, delusi penderita makin terinci dan sistematis, sehingga pada suatu titik tertentu penderitaanya tersebut seperti suatu alur dalam novel (Baron, 1989).

3.      Catatonic Schizofrenia
Penderita skizofrenia katatonik banyak mengalami kejadian-kejadian aneh dan ganjil (bizarre) secara menyeluru. Penderita ini menunjukkan nsalah satu perilaku dari “dingin” (beku total) atau justru mudah sekali terangsang. Seringkali mereka berada di antara kedua sifat tersebut. Misalnya duduk seperti orng lumpuh untuk beberapa waktu yang lama, kemudian secara tiba-tiba diintrupsi dengan suatu tindakan tertentu. Tipe ini merupakan tipe skizofrenia yang jarang terjadi (Baron, 1989)

4.      Undifferentiated Schizofrenia
Skizofrenia jenis ini adalah bagi pnderita yang tidak dapat dikategorikan pada skizofrenia tipe lain, termasuk didalamnya skizofrenia yang menunjukkan adanya gangguan pada pikiran, persepsi, emosi, meski tidak terlihatr aneh pada tipe yang lain (Baron, 1989).